Ahlan Wa Sahlan In Inspirasi's Blog

Selasa, 14 Januari 2014

MALAM ITU SUNGGUH MENYADARKANKU........





Beranjak dalam usia yang sudah matang, umi menyuruhku untuk menambah wawasan dan pengetahuanku tentang segalanya di Jakarta, kota yang penuh sesak dan desakan manusia yang tidak pernah berhenti untuk beraktivitas. Terlahir dari keluarga yang penuh dengan kereligiusan, sejak kecil hingga dewasa ini abi tak pernah lupa mengingatkan ku untuk selalu mengingat Allah, akan tetapi aku selalu menipu diri, berpura-pura sholat hanya sekedar abi tau bahwa aku telah melaksanakan perintah-nya. Sesuatu yang luar biasa belum terjadi padaku,hatiku begitu membeku,seakan tak terasa apa-apa ketika abi dan umi mengajarkan ku tentang indahnya Allah. Tidak ada getaran apapun dalam jiwa ku,, terasa begitu hampa... Hmmm
Entahlah,,  kapan hidayah itu akan datang..
Namun permintaan umi tidak ku tolak,persepsi umi tentang diriku yang pasti sudah matang dan bisa untuk dilepas darinya membuat umi dan abi ikhlas dan tanpa beban melepaskanku. Dengan berbekal ilmu agama yang abi berikan, yang padahal itu tak bermakna apa-apa untukku, akhirnya aku beranjak meninggalkan rumah dengan sejuta harapan. Jilbab yang ku gunakan ini hanya sebagai penanda bahwa aku seorang muslimah.
Hari pertama ku di jakarta, aku langsung bertemu dengan seorang muslimah juga yang sama sepertiku.obrolan panjang pun kami jalani, serambi menyusun pakaian kami bercerita panjang alasan menempuh jakarta sebagai tempat beranaung menjemput ilmu. Nafisa teman satu kamar ku itu, berasal dari Ranah Minang, dia sama seperti ku ayahya juga seorang ustadz. Beberapa hari pun ku jalani bersama Nafisa, pergi kuliah,pulang dan kemanapun kami bersama.kami menjadi sahabat baik,begitu akrab. Aku bertanya pada Nafisa, ,”bagaimana dengan jilbabmu”?
Maksudmu??
Ikhlaskah kau mengenakannya??
Alhamdulillah aku ikhlas,,!!  Bagaimana dengan mu??
“itulah yang selama ini menjadi beban di hidupku,aku pun heran dengan diriku,aku terlahir dari keluarga yang religius,akan tetapi aku tidak pernah merasakan nikmatnya mengenakan jilbab ini,selain itu aku menjalankan sholat pun karena rasa hormatku pada abi,,”
Hidupku terasa hampa naf,” bisakah kau membantuku??
“insya Allah,,
Hal itu terkadang sering dialami dalam hidup,mencari jati diri itu tidak semudah membalikkan telapak tangan,akan tetapi penuh dengan proses yang panjang,sabarlah Nis,, insya Allah aku akan membantumu,dan kau jangan lupa untuk berdo’a pada Allah,yang maha membukakan pintu hati hambanya,,”
“trimaksih rin,”
“smua itu sudah menjadi kewajiban sesama muslim untuk saling membantu dan mengingatkan,,”
Setelah percakapan panjang itu,, kami memejamkan mata,untuk beristirahat dengan kelelahan hari ini,,
Berkisar seperempat malam, aku mendengar suara tangis mendayu,suara itu tidak jauh dari kamar tidurku,, aku mencoba membuka mata dan membangunkan diri,,selama tidurku aku belum pernah terbangun ditengah malam seperti ini,, aku memberanikan diri untuk berdiri,,namun sebelum aku beranjak keluar kamar kulihat Nafisa tidak ada di tempat tidurnya,” kemana Nafisa, aku bertanya dalam hatiku,,?
Kulangkahkan kakiku menuju arah suara itu, kubuka pintu kamar, dengan perasaan agak sedikit takut, aku meneruskan langkah untuk menuju arah sumber suara itu, sepertinya suara itu bersumber dari musholla,, memang di tempat kami kost ada musholla didalam rumah.. Langkah penasaranku terus menuju arah suara, semakin dekat semakin jelas suara itu, sepertinya aku mengenali suara itu,, setelah sampai didekat musholla kulihat seseorang sedang menangis, tangisan itu membuat ku terharu bahkan tanpa terasa air mataku juga ikut mengalir,,, do’a-do’anya begitu menyentuh kalbuku, belum pernah aku rasakan hal ini,seperti ada yang meledak dalam jiwaku,menembus jantungku,,
“ya Allah inikah hidayah mu,,!!!”
Aku terus terhanyut dalam buaian do’a itu, perasaan takut tadi seketika hilang dari benakku dan rasa penasaran siapa yang sedang berdo’a itu tidak aku perdulikan lagi, yang kurasa,sesuatu yang indah itu sedang menghampiriku,, lirih-lirih dari do’a itu seakan menyadarkan ku akan perbuatan yang slama ini ku lakukan,,
“ ya Allah,, aku begitu hina dimatamu, aku tak ada apa-apanya di hadapanmu, bukan engkau yang membutuhkan ku tapi aku yang membutuhkan,,
Ya rabb... Dengan sifat mu yang maha pemaaf ampunilah dosaku slama ini yang telah melalaikanmu,aku tak merasa bahwa kau slalu ada untukku..
Wahai Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang,, sungguh karena kasih sayangmulah aku masih bisa bertahan di jalanmu ini, jika engkau berkehendak untuk menyesatkanku aplah dayaku ya allah,,mungkin aku akan menjadi hambamu yang durjana... Wahai Allah yang maha pemurah engkau berikan segala apapun yang aku butuhkan,,, engkau nyatakan apa yang aku inginkan, tidak terasa aku semakin jauh darimu ya Rabb,,, kembalikan aku padamu wahai Allah, hati ini terasa hampa,gundah, dan tak berarti apa-apa tanpa sentuhan kasihmu,,, wahai allah kau sungguh maha mencintai tak membedakan satu pun hambamu,walaupun aku telah jauh meninggalkanmu namun kau begitu baik padaku,, ya Allah seandainya raga ini kau ambil apa yang bisa aku bawa dan aku tunjukkan dihadapanmu,,, ya Rabb.. Abi dan umi ku sungguh mulia mencintaiku,mereka tulus mendampingiku,merawatku hingga aku seperti ini,bahkan slama ini aku telah menipu mereka dengan kebohonganku,, ya Allah sungguh hina hambamu ini,ampunilah sgla dosaku ya rabb, terimakasih kau telah mengingatkan ku,trimakasih ya Allah,,
Seketika itu dimalam itu aku bersujud,memohon ampun pada Allah,ya Allah aku sungguh berdosa pada mu..
Tanpa kusadari Nafisa telah berdiri disampingku, ketika ku sadrai itu,aku langsung memeluk Nafisa, aku sungguh berterima kasih Nafisa telah membantuku menyadari kesalahan ku slama ini..aku tau rina berbuat hal itu untukku,untuk menyadarkanku dan Alhamdulillah Allah membukakan hatiku,,
Malam itu sungguh malam yang bermakna dalam hidupku, malam itu malam pertama ku bersujud pada Allah dengan berlinangan air mata.

Tidak terasa sudah semester 8 aku kuliah di jakarta, Alhamdulillah, aku akan segera di wisuda,,  Nafisa pun sama, kami akan di wisuda bulan depan,, setelah di wisuda Nafisa berkata bahwa dia akan kembali ke kampung halamannya, aku pun berfikir demikian. Aku mengabarkan pada abi dan umi bahwa aku akan segera diwisuda, umi mengucapkan syukur atas hal itu,,
Aku pun bersyukur pada Allah, allah telah membukakan jalan untukku, kali ini aku benar2 menikmati islam ku, aku akan menjadi muslimah sejati, begitu janjiku pada hatiku.. Sehingga sekembalinya aku dari Jakarta aku akan membawa kabar gembira untuk abi dan umi ku. Hidup terasa sempurna dengan menjadi muslim/muslimah sejati dan menjadikan islam itu benar-benar indah.

Goresan Tinta : Mega Setia



Tidak ada komentar:

Posting Komentar