Entahlah,, kapan hidayah itu akan datang..
Namun
permintaan umi tidak ku tolak,persepsi umi tentang diriku yang pasti sudah
matang dan bisa untuk dilepas darinya membuat umi dan abi ikhlas dan tanpa
beban melepaskanku. Dengan berbekal ilmu agama yang abi berikan, yang padahal
itu tak bermakna apa-apa untukku, akhirnya aku beranjak meninggalkan rumah
dengan sejuta harapan. Jilbab yang ku gunakan ini hanya sebagai penanda bahwa
aku seorang muslimah.
Hari
pertama ku di jakarta, aku langsung bertemu dengan seorang muslimah juga yang
sama sepertiku.obrolan panjang pun kami jalani, serambi menyusun pakaian kami
bercerita panjang alasan menempuh jakarta sebagai tempat beranaung menjemput
ilmu. Nafisa teman satu
kamar ku itu, berasal dari Ranah Minang,
dia sama seperti ku ayahya juga seorang ustadz. Beberapa hari pun ku jalani
bersama Nafisa, pergi
kuliah,pulang dan kemanapun kami bersama.kami menjadi sahabat baik,begitu
akrab. Aku bertanya pada Nafisa,
,”bagaimana dengan jilbabmu”?
Maksudmu??
Ikhlaskah
kau mengenakannya??
Alhamdulillah aku
ikhlas,,!! Bagaimana dengan mu??
“itulah yang selama
ini menjadi beban di hidupku,aku pun heran dengan diriku,aku terlahir dari
keluarga yang religius,akan tetapi aku tidak pernah merasakan nikmatnya
mengenakan jilbab ini,selain itu aku menjalankan sholat pun karena rasa
hormatku pada abi,,”
Hidupku
terasa hampa naf,” bisakah kau membantuku??
“insya
Allah,,
Hal
itu terkadang sering dialami dalam hidup,mencari jati diri itu tidak semudah
membalikkan telapak tangan,akan tetapi penuh dengan proses yang
panjang,sabarlah Nis,, insya Allah
aku akan membantumu,dan kau jangan
lupa untuk berdo’a pada Allah,yang
maha membukakan pintu hati hambanya,,”
“trimaksih rin,”
“smua itu sudah
menjadi kewajiban sesama muslim untuk saling membantu dan mengingatkan,,”
Setelah
percakapan panjang itu,, kami memejamkan mata,untuk beristirahat dengan
kelelahan hari ini,,
Berkisar
seperempat malam, aku mendengar suara tangis mendayu,suara itu tidak jauh dari
kamar tidurku,, aku mencoba membuka mata dan membangunkan diri,,selama tidurku
aku belum pernah terbangun ditengah malam seperti ini,, aku memberanikan diri
untuk berdiri,,namun sebelum aku beranjak keluar kamar kulihat Nafisa tidak ada
di tempat tidurnya,” kemana Nafisa, aku bertanya dalam hatiku,,?
Kulangkahkan kakiku
menuju arah suara itu, kubuka pintu kamar, dengan perasaan agak sedikit takut,
aku meneruskan langkah untuk menuju arah sumber suara itu, sepertinya suara itu
bersumber dari musholla,, memang di tempat kami kost ada musholla didalam
rumah.. Langkah penasaranku terus menuju arah suara, semakin
dekat semakin jelas suara itu, sepertinya aku mengenali suara itu,, setelah
sampai didekat musholla kulihat seseorang sedang menangis, tangisan itu membuat
ku terharu bahkan tanpa terasa air mataku juga ikut mengalir,,, do’a-do’anya
begitu menyentuh kalbuku, belum pernah aku rasakan hal ini,seperti ada yang
meledak dalam jiwaku,menembus jantungku,,
“ya Allah inikah hidayah
mu,,!!!”
Aku terus terhanyut
dalam buaian do’a itu, perasaan takut tadi seketika hilang dari benakku dan
rasa penasaran siapa yang sedang berdo’a itu tidak aku perdulikan lagi, yang
kurasa,sesuatu yang indah itu sedang menghampiriku,, lirih-lirih dari do’a itu
seakan menyadarkan ku akan perbuatan yang slama ini ku lakukan,,
“ ya Allah,, aku begitu
hina dimatamu, aku tak ada apa-apanya di hadapanmu, bukan engkau yang
membutuhkan ku tapi aku yang membutuhkan,,
Ya rabb... Dengan
sifat mu yang maha pemaaf ampunilah dosaku slama ini yang telah
melalaikanmu,aku tak merasa bahwa kau slalu ada untukku..
Wahai Allah yang maha
pengasih lagi maha penyayang,, sungguh karena kasih sayangmulah aku masih bisa
bertahan di jalanmu ini, jika engkau berkehendak untuk menyesatkanku aplah
dayaku ya allah,,mungkin aku akan menjadi hambamu yang durjana... Wahai Allah yang maha
pemurah engkau berikan segala apapun yang aku
butuhkan,,, engkau nyatakan apa yang aku inginkan, tidak terasa aku semakin
jauh darimu ya Rabb,,, kembalikan aku padamu wahai Allah, hati ini terasa
hampa,gundah, dan tak berarti apa-apa tanpa sentuhan kasihmu,,, wahai allah kau
sungguh maha mencintai tak membedakan satu pun hambamu,walaupun aku telah jauh
meninggalkanmu namun kau begitu baik padaku,, ya Allah seandainya raga
ini kau ambil apa yang bisa aku bawa dan aku tunjukkan dihadapanmu,,, ya Rabb.. Abi dan umi ku
sungguh mulia mencintaiku,mereka tulus mendampingiku,merawatku hingga aku
seperti ini,bahkan slama ini aku telah menipu mereka dengan kebohonganku,, ya Allah sungguh hina
hambamu ini,ampunilah sgla dosaku ya rabb, terimakasih kau telah mengingatkan
ku,trimakasih ya Allah,,
Seketika itu
dimalam itu aku bersujud,memohon ampun pada Allah,ya Allah aku sungguh berdosa
pada mu..
Tanpa
kusadari Nafisa telah berdiri disampingku, ketika ku sadrai itu,aku langsung
memeluk Nafisa, aku sungguh berterima kasih Nafisa telah membantuku menyadari
kesalahan ku slama ini..aku tau rina berbuat hal itu untukku,untuk
menyadarkanku dan Alhamdulillah Allah membukakan hatiku,,
Malam
itu sungguh malam yang bermakna dalam hidupku, malam itu malam pertama ku
bersujud pada Allah dengan
berlinangan air mata.
Tidak
terasa sudah semester 8 aku kuliah di jakarta, Alhamdulillah,
aku akan segera di wisuda,, Nafisa
pun sama, kami akan di wisuda bulan depan,, setelah di wisuda Nafisa
berkata bahwa dia akan kembali ke kampung halamannya, aku pun berfikir
demikian. Aku mengabarkan pada abi dan umi bahwa aku akan segera diwisuda, umi
mengucapkan syukur atas hal itu,,
Aku
pun bersyukur pada Allah, allah
telah membukakan jalan untukku, kali ini aku benar2 menikmati islam ku, aku
akan menjadi muslimah sejati, begitu janjiku
pada hatiku.. Sehingga sekembalinya aku dari Jakarta
aku akan membawa kabar gembira untuk abi dan umi ku. Hidup terasa sempurna
dengan menjadi muslim/muslimah sejati dan
menjadikan islam itu benar-benar
indah.
Goresan
Tinta : Mega Setia

Tidak ada komentar:
Posting Komentar