
Perjuanganku untuk Berjilbab
(Jilbab i’m
in love)
Mentari pagi menyapa lembut wajah ku ,, saat ku lihat dia mulai bangun dari
peraduannya . hari ini hari senin saat, hari dimana aku memulai sekolah.
Mungkin awal karena beberapa bulan yang lalu telah libur semester .Teringat empat
tahun silam, Pagi itu aku dan kebulatan tekadku mencoba memberanikan diri
mengambil sebuah keputusan yang bertentangan dengan kedua orangtuaku. Dengan
berbekal pakaian yang disumbangkan dari kakak Mentorku di sekolah,saat itu aku
memakai pakaian panjang putih-abu-abu beserta jilbab yang membalut rambutku.
Aku menatap wajahku di cermin, menurutku aku cantik dengan busana baruku.
Dengan senyum aku melangkah. Tentu saja ibu heran dengan penampilan baruku,
dengan riangnya aku beranikan diri pada ibu berbicara kalau hari ini aku akan
memakai jilbab untuk selamanya, dan insyaAllah aku akan menjaga jilbab ini. Ibu
ku hanya diam, tak dapat mencegahku lagi.
Aku bukanlah orang terakhir yang memakai jilbab di antara teman baikku. Masih
ada beberapa teman baikku yang belum berjilbab . Dahulu, waktu aku masih
berumur 10 tahun, aku sudah berniat untuk memakai jilbab. Padahal saat itu aku
tak tahu apa itu jilbab.Yang aku tahu hanya, aku cantik saat mengenakan jilbab
seperti kata ustazah TPA. Saat itu aku pernah mencoba memakai jilbab di rumah,
entah berapa hari aku memakainya. Saat di tanya anggota keluarga lain, aku
menjawab kalau aku mau memakai jilbab ketika masuk SMP nanti, jadi latihan dari
sekarang. SMP aku nanti kan di pesantren.
Tentu saja ibu hanya diam saat itu, namun dengan rayuannya, step by
step akhirnya aku luluh tidak jadi sekolah di pesantren dan memakai jilbab.
Alasan yang ibu dan anggota keluarga berikan sebenarnya simple untuk
mengelabui seorang anak kecil. Alasannya sih pakai jilbab itu panas, susah
dapet kerjaan nantinya, dan adek tuh masih kecil, kalau sekolah di pesantren
nanti kangen sama ibu susah untuk pulang. Bahkan kakak perempuanku cerita
menakutkan kalau adik temennya ada yang sekolah di pesantren kutuan karena tidurnya
rame-rame. Anehnya, Usiaku saat itu masih berpikir takut kepada kutu
rambut. Gubrak!
Ketika SMP aku sangat kagum dan iri dengan temanku, ia memakai jilbab yang
zaman itu memakai jilbab di SMP negeri adalah kondisi yang langkah. Aku juga
kagum dengan guru bahasa Inggris yang mengenakan jilbab. Anggun dan cantik. Aku
ingat kata-katanya “adik-adik memakai jilbab itu enak loh, gak digangu
cowok-cowok nakal, gak panas, gak akan item, tambah cantik, dan gak
bakal digigit nyamuk, paling di muka itupun nyamuknya terpeleset karena ada
bedak”. Aku sangat suka dengan ibu guru itu, entah mungkin ia hanya PKL atau
guru pengganti, ia hanya mengajar kami sebentar.
Lambat laun hidayah untuk memakai jilbab itu lenyap. Akupun tak tahu pasti
kenapa keinginanku dari kecil hilang ketika aku berada di lingkungan yang
mayoritas menggunakan jilbab. Padahal ketika SMK semua kakak kelas baik,
santun, anggun, serta perhatian. Mungkin karena dari kecil aku menganggap bahwa
orang yang memakai jilbab itu anggun, baik, rajin ibadah, dan tentu saja tak
akan melepasnya saat keluar rumah. Sedangkan orang-orang yang menjadi
inspirasiku untuk berjilbab meninggalkan pakaian jilbab itu tanpa malu dan
ragu. Teman SMP ku hanya memakai jilbab ketika ia sekolah, sedangkan ustazahku
melepasnya karena ia telah menikah. Mereka melepas jilbab yang saat itu ingin
sekali aku pakai.
Aku tak pernah
menyalahkan mereka, aku saja yang saat itu bertokoh pada orang lain. Sehingga
ketika kekagumanku sirna maka sirna pula keinginanku. Hidayahku menghilang karena
kebodohanku saat itu. Mungkin juga aku terlalu percaya tentang persepsi
orangtuaku tentang jilbab yang akan mengungkungku.
Aku juga tak tahu pasti hidayah itu kembali, saat itu tiba-tiba saja aku
ingin berjilbab setelah mendengar ceramah agama dari guru agama favorit kami.
Padahal ia sering menasehati tentang jilbab kepada kami, sering juga
menyinggungku saat aku memekai rok pendek namun hati ini tak luluh bahkan
mempunyai banyak alasan untuk tidak mengenakan jilbab. Orangtua tak setuju,
susah dapet kerja, tidak bebas melalukan sesuatu, takut memalukan nama jilbab,
takut akhlak gak bisa baik saat berjilbab dan sebagainya. Padahal kita semua
tahu kalau ada niat maka ada seribu cara untuk mencapainya, bukan seribu alasan
untuk mencegahnya.
Aku tak ingat kata-kata dari sang guru yang membuatku terenyuh. Yang ku
tahu aku menangis setelahnya dan ingin segera memakai jilbab. Tiga bulan
lamanya aku menunggu saat-saat terindah memakai jilbab. Aku sengaja untuk
menundanya sampai hari lahirku tiba, tepat saat ku berusia 16 tahun. Tiga bulan
itu lah saat aku membulatkan tekad, berkomunikasi dengan orangtua walau jawaban
orangtuaku tetap tidak tentang jilbab, serta mempersiap diri dan akhlak.
Alhamdulillah hidayah yang pernah pergi hadir kembali karena kasih sayang Allah
kepadaku.
Cobaan tak henti sampai disitu , kini aku telah memakai jilbab , terus
berusaha untuk menjaga dan istiqomah . sejujurnya aku sangat istiqomah ditambah
lagi dengan motivasi yang diberikan oleh guru agamaku di SMK dan juga
kakak-kakak mentorku di ROHIS . mereka orang yang luar biasa. Tidak pernah
terbayangkan dan ku prediksi sebelumnya bahwa aku mendapat tantangan berjilbab
dari guru Non-Muslim ku disekolah , beliau sebenarnya orang yang baik namun
karena ketidaksukaan dia kepada ISLAM membuat dia membenci semua orang-orang
ISLAM yang ada disekolah itu , termasuk diriku .. masih terlihat jelas di
memori kepala ku, berawal waktu untuk pemotretan semua siswa untuk mengikuti
Ujian Nasional saat itu , setiap siswi yang mengenakan jilbab diminta untuk
melepaskan jilbab mereka . Aku mencoba meyakinkan diri dan memberanikan diri
untuk tidak melepaskan kain putih segiempat itu , salah satu guru honorer
disekolah ku mengancam dengan kalimat yang menyedihkan hatiku “ kalau kamu
tidak melepas jilbabmu, sekolah tidak bertanggung jawab sekiranya kamu tidak
bisa mengikuti Ujian Nasional dan Ijazahmu tidak dikeluarkan oleh Dinas
Pendidikan “
Masya Allah rintihku .. begitukah
???
saat itu aku
masih labil untuk memberontak , menangis menjadi luapan emosiku.
Spontan ku
ambil HP ku dari kantong rok ku , kak aida menjadi sasaran utama ku untuk
mengadukan semua ini , luar biasa beliau menguatkanku , 1 kekuatan ku dapatkan
.. selanjutnya kak yumi .. pengalaman yang sama beliau alami ,aku masih ingat
kata-kata nya “ Dek ,, kk aja udah kuliah
sekarang ,, lulus dengan nilai bagus , gak ada hambatan ataupun kendala , baik
itu dari Dinas maupun dari sekolah ,, toh .. kk lulus juga , itu Cuma kerikil
kecil dek , pertahankan !!! “
Oke .. 2
kekuatan sudah di tanganku ..
selanjutnya ,
yang terakhir adalah guru agama ku sekaligus pembina rohis ku ,, luar biasa mereka semua menjadi penguat
jalanku .. Alhamdulillah ..
Walau dengan
sedikit deraian air mata ,, karena ada rasa takut tidak bisa ikut ujian ..
huuft .. manusiawi ..
Lega ..
akhirnya
Beberapa minggu
setelah itu .. Ujian Akhir Sekolah pun diadakan ..
Nah .. inilah
masa klimaks bagiku yang tak pernah kulupakan sampai kapanpun ...
Awalnya
terlihat tenang .. ujian dimulai , guru pengawas adalah dari guru sekolah ku
sendiri , nah sebelumnya pernah ku ceritakan ya ada seorang guru Non-Muslim
yang sangat tidak menyukai ISLAM .. yups .. inilah saat nya ..
Kertas ujian
sudah dibagikan waktu berjalan beberapa menit .. ketika ditengah masa ujian ..
beliau ketus
mengatakan “ siapa ini berfoto pakai jilbab , ??”
aku tau itu
yang dimaksud adalah diriku .. dengan tenang karena ku sadar saat itu tengah
ujian, jadi tak ku jawab pertanyaannya ..
Beliau mulai
melirik ke arahku dengan sorot mata yang sangat tak menyenangkan ..
Aku meneruskan
menjawab soal demi soal ujianku .. lalu beliau terus ketus kembali mengatakan “
kenapa sih Cuma 1 menit aja gak mau untuk lepas jilbab??!!”
Cuma 1 menit
??!! waaaaww dahsyat.. kata-kata itu menusuk ku ..
Sejujurnya aku geram sekali mendengarnya , tapi posisiku saat itu adalah
seorang siswa dan beliau adalah seorang guru .. dan juga aku sedang ujian ,,
jadi ku biarkan saja sambil terus beristighfar dalam hatiku ,, hmm ujianku
menjadi tidak tenang .. karena terngiang kata-kata dari guruku tersebut, walau
bagaimanapun beliau adalah guruku , tepatnya guru mata pelajaran PKN ..
Allah .. nama
yang selalu ku sebut di setiap hentakan nafasku
Inilah skenario
kehidupan dari sang Illahi ..
Tampaknya
menjadi cerita tak terlupakan sampai kapanpun .. bahwa mempertahankan akidah
itu bukan hanya untuk 1 menit namun untuk 1 hidup selamanya ,,
Setelah tamat
dari sekolah ,, aku bercerita pada guru agamaku , dan ku dapatkan informasi
bahwa guru PKN ku itu adalah seorang MISSIONARIS..
wajarlah ketat betul pengawasan beliau terhadapku .. matanya selalu melirik sehingga
wajarlah ketat betul pengawasan beliau terhadapku .. matanya selalu melirik sehingga
membuat kudukku
berdiri ngeri ,, hihi
takut ..
Keyakinanku
dengan pertahanan ini membuat semangat ku untuk terus mendakwahkan tentang
jilbab kepada yang lain semakin bergelora .. hammasah !!
Saat itu dimana
saat-saat yang mendebarkan bagiku ,, latar belakang keluarga yang tidak
religius , ditambah dengan pengetahuan agama yang minim , membuat ku mudah
merasa takut dengan kerikil kecil yang memang menjadi sandungan nantinya ..^_^
Kini ,, keyakinanku telah mantap dengan ilmu yang diajarkan oleh tutor
sekaligus ustadzah dikampusku dan Alhamdulillah saat ini aku menjadi seorang
Mentor (pembimbing) adik-adik Rohis ku di SMK Negeri 1 Kota Jambi .^_^
Semua menjadi
pelajaran dan pengajaran yang sangat berharga bagiku
Dengan
proses-proses yang luar biasa ..
Alhamdulillah, aku bersyukur aku pernah berjilbab transparan, berjilbab
nyaris tak menutupi dada, serta memakai celana panjang dengan baju panjang
mini, namun seiring waktu aku berusaha menyempurnakannya. Aku bersyukur karena
aku pernah merasakan bagaimana perjuangan untuk menjadi lebih baik. Semuanya
membutuhkan proses dan semuanya membutuhkan ilmu. Seperti diriku, yang
memperoleh hidayah dengan proses begitu pula dengan hijabku, aku memakainya
dengan proses dari tak sempurna menuju sempurna. Sampai saat ini pun aku akan
terus berusaha menyempurnakan jilbab dan menjaganya.Tentu saja aku menikmati
setiap prosesnya.
Mungkin saat ini banyak saudari-saudariku, entah di ujung dunia sana
ataupun yang sangat dekat dengan ku sedang memperjuangkan jilbab mereka.
Berjuang untuk memulai mengenakannya ataupun berjuang untuk mempertahankannya.
Bahkan mungkin saja perjuangan mereka sangatlah berat dari perjuanganku dahulu
yang hanya sebatas pertentangan kata orangtua dan pertentangan kata hati.
Begitu pula dengan saudari-saudariku yang belum mengenakan jilbab ataupun yang
telah mencoba menutup aurat namun belum sempurna, selalulah semangat mengejar
ilmu untuk menjadi lebih baik menuju jilbab yang sempurna. semangat!!
Itulah cerita
romantisme 4 tahun jilbabku, 20 Juni 2010, hingga saat ini aku berusaha
menjaganya. Kini, Aku nyaman dengan jilbabku. Jilbab i’m in
love.
Sebagai
tambahan ,, aku menyelipkan tips dan trick untuk berjilbab ala ku ,,
dengan 7M :
ü Mantapkan
niat...
ü Mulailah dengan Bismillah..
ü Membaca surat
cinta Allah kepada kita(muslimah) tentang kewajiban menutup aurat
ü Minta restu
orang tua....
Supaya lebih
ü Meyakinkan diri
kita untuk memakai jilbab
ü Modis tapi tetep
syar’i
ü Mempertahankan
jilbab dimanapun dan dalam kondisi apapun
Sehingga kita bisa menjadi
Muslimah kaffah .. ^_^
Biodata Penulis
Nama : Mega Setia.
Tempat,tanggal
lahir : Jambi, 17 November 1993.
Daerah asal : Jambi.
Alamat : Jl. Widuri II RT
31/01 Pal V Kota Baru Jambi.
Status : Mahasiswi ,Tadris
Bahasa Inggris
IAIN Sultan
Thaha Saifuddin Jambi.
Aktivitas : Mahasiswi , Mentor ,
dan Aktivis Dakwah Kampus.
No hp : 085384177230 /
089674271590
Hobi : Membaca , Menulis
, Badminton.
Motto : Ganbatte Kudasai !!!
(apapun yang ingin dilakukan, lakukanlah
hingga bisa)
"Tulisan ini
sangat saya rencanakan untuk mengikuti lomba sayembara menulis dari FSLDK
INDONESIA ,, rasa bangga bisa mengikutinya serta pengharapan semoga tulisan ini
mendapat apresiasi yang positif dan bermanfaat bagi pembaca .."



subhanallah,,,, tulisannya bagus.. linda blg ajari bkin blog..:)
BalasHapus