Buah Kesabaran Ibu ...........
Aku tau bahwa perbuatan mereka memang tak sepantasnya
mereka lakukan, membuat hati ibunda menjadi sedih, namun yang sangat
mengherankan mengapa mereka tak pernah menyadari akan kesalahan itu, mereka
tutup mata akan persoalan itu, sehingga apapun yang kami lakukan tak pernah
menyadari mereka.
“ aku tau bu,,
ibu begitu sedih dengan perbuatan mereka, namun kita harus sabar bu,, aku yakin
Allah akan memberikan hidayah pada mereka, ibu yang sabar ya..”
Hari
demi hari pun terlewati sudah, luka lama pun mulai mengering.namun di suatu
ketika mereka membuat ulah lagi, aku tak menyangka mereka akan begitu,, ku
hadapi dengan rasa sabar,, namun tidak begitu dengan ibu,, ibu menanggapinya
dengan serius,,
“ perbuatan mereka sudah di ambang batas, kalau seperti
ini terus kita yang
akan mereka injak,, ibu tidak bisa membiarkan mereka berbuat seperti ini pada
kita..”
“ tidak bu,, kesabaran itu tidak ada batasnya, walaupun
demikian kita harus tetap sabar.
“ iya betul,,
maafkan ibu ,,
aku berfikir keras bagaimana agar ibu bisa sabar
menghadapinya..
Sempat terfikirkan juga, mengapa demikian??? Seharusnya
saudara itu tidak boleh menyakiti hati saudaranya sendiri, namun apa yang
mereka lakukan sudah membuat ibu naik pitam.
Kemudian kakak datang menghampiriku,,
“ jangan terlalu kau fikirkan, ibu memang begitu, dia kan
sudah tua, wajar jika dia begitu”
“ tapi,, untuk kali ini, ibu serius,, tidak sebiasanya
ibu menanggapi persoalan sebegini mungkin.., aku khawatir dengan ibu”
“ itulah yang harus kita fikirkan bagaimana membuat ibu
tenang.”
“Kalian tidak perlu memikirkan ibu, kalian jalani saja
seperti biasanya. “
Ternyata pembicaraan aku dan kakak terdengar oleh ibu,,
“ tidak bisa begitu bu, apapun yang ibu rasakan, kami
harus mersakan juga, kami tidak ingin melihat ibu susah sendiri.”
Mendengar perkataanku tadi, ibu beranjak menuju kamar.
Entah apa yang sedang ia rasakan namun yang pasti pergolakan batin itu pasti
sedang menghampirinya. Di satu sisi ia tidak ingin memutuskan tali silaturahim
ini, di satu sisi memikirkan begitu teganya mereka melakukan semua ini.
Percakapan ku yang sempat terputus dengan kakak kami
lanjutkan kembali,
“apa kita bicarakan saja persoalan ini dengan ustadz
ilyas, kakak yakin beliau akan memberikan jalan keluar yang baik”
“ belum tentu ibu mau, apapun itu ini adalah persoalan
keluarga, mengapa harus ikut campur tangan orang lain, tentu ibu merasa enggan
membicarakan ini kepada ustadz ilyas”
“ bukan begitu maksud kakak, beliau kan faham tentang
agama biarkan beliau menanggapi permasalahan ini”
“ tapi kak,,”
“ belum dicoba, kau sudah patah semangat duluan, ada
baiknya sesuatu itu dicoba dulu.”
“ terserah kakak lah bagaimana baiknya, talitha ikut
saja.”
Beranjak dari tempat duduk kami beristirahat,
masing-masing memikirkan apa yang sebaiknya dilakukan
Keesokan harinya tanpa sepengetahuan ibu, kami berkunjung
kerumah ustadz ilyas. Sesampainya kami disana ternyata ustadz ilyas sedang
duduk di serambi depan rumahnya bersama istrinya.
Ustadz ilyas begitu hangat menyambut kedatangan kami,
“ assalamu’alaikum ustadz...”
“ wa’alaikumsalam warahmatullah,, irfan,”
“ia ustadz.. “
“ silakan duduk, ada gerangan apa ananda kemari..”
“ ingin mendiskusikan sesuatu ustadz..”
“ oh ya.. ibu tolong ambilkan air minum”
“ begini ustadz,, sebenarnya ini persoalan keluarga,
namun irfan hanya ingin meminta pendapat usatdz mengenai hal ini..”
“ silakan..”
“ saudara dari bapak telah melakukan sesuatu yang membuat
sakit hati ibu, ibu begitu sedih memikirkannya, kami pun tidak tega melihatnya,,
ibu memikirkan ini berhari-hari,,”
“ baiklah sebelum ananda mengatakan pokok
permasalahannya, ustadz sudah mengerti dimana titik beratnya.. begini irfan,
hidup kita ini tidak pernah lepas dari godaan syetan, apalagi syetan paling
gembira melihat umat manusia terputus tali silaturahimnya, akan tetapi kita
sebagai manusia biasa harus memohon perlindungan kepada Allah, yang Maha
Melindungi. Sebaiknya ibu banyak melakukan sholat sunnat tahajudd dan perbanyak
istighfar agar benar-benar kuat dan sabar dalam menghadapi segala persoalan,
bukan hanya persoalan persaudaraan saja, tetapi semua persoalan. Apapun itu..”
“ terima kasih ustadz.. tapi bagaimana sikap kami
terhadap saudara kami itu ustadz,,??”
“ jalankan saja seperti biasanya, ananda harus banyak
berdo’a juga untuk membantu kesabaran ibu..”
“ bagaimana jika mereka masih berbuat demikian,, ??”
“ biarkan saja Allah yang akan menbalasnya.”
“ Alhamdulillah ustadz,, trima kasih banyak”
“ sama-sama”
“ ananda pulang ustadz,, Assalamu’alaikum.”
“ waalikum salam warahmatullah”
Setelah keluar dari pagar rumah ustadz ilyas, hati kami
begitu tenang rasanya
“ subhanallah kak,
ibu akan senang mendengarkan ini..”
“ kakak harap begitu, “
Sesampainya kami dirumah ibu terkejut dengan kedatangan
kami,
“ dari mana kalian ? pergi tidak minta izin pada ibu,”
“ maafkan kami, bu.. sungguh kami tidak bermaksud tidak
memberitahu ibu, “
“ bu.. jangan ibu fikirkan lagi permasalahan kemarin,
biarlah Allah yang membalasnya, ibu harus menjaga kesehatan dan fikiran ibu,
jangan menyiksa diri seperti ini, bu..”
Setelah percakapan hari itu,, kami menjalankan hari-hari
seperti biasanya. Tidak terasa sudah memasuki bulan suci ramadhan, 10 hari lagi
hari raya idul fitri. Kami begitu bahagia mempersiapkan segalanya, kue, baju
dan keperluan lain guna menyambut lebaran telah kami persiapkan.
1 hari sebelum hari raya itu dirayakan, tepatnya malam
takbiran, keluarga dari ayah mengunjungi rumah kami, melihat kedatangan mereka
kami begitu terkejut. Walaupun begitu kami menyambut mereka dengan hangat. Di
malam itu kami saling memaafkan satu sama lain. Mereka meminta maaf jika selama ini mereka telah banyak menyakiti
hati kami, dengan senang hati ibu menyambut kata maaf itu, begitu pun kami juga
memnta maaf kepada mereka sekiranya selama ini kami membuat salah terhadap
mereka.
Di pagi harinya, kami begitu bahagia melaksanakan hari
raya idil fitri, sungguh hari raya kali ini begitu bermakna, dan terjawab sudah
semua berkah kesabaran ibu.
by Me...........


Tidak ada komentar:
Posting Komentar